Bermetamorfosis

Januari 26, 2018


Metamorfosis
Dulu sering banget jadi soal ujian pas jaman masih SD
Definisi metamorfosis dari guru SD ya perubahan dari ulat (yang notabene nye terkenal jelek,bikin gatel, menjijikkan) lalu jadi kepompong (katanya kayak orang bertapa,diem aja) sampai akhirnya jadi kupu-kupu (udah cantik bisa terbang kemana-mana banayk yang suka sama dia)

Dalam hidup pun sebagai seorang manusia harusnya kita meniru tuh si proses bermetamorfosisnya ulat. Perlahan berubah menjadi sosok yang lebih baik sehingga banyak disukain sama orang
Tapi nih tapi semakin ke sini kok kayaknya manusia ini malah cenderung bermetamorfosis ke arah yang salah
Saya merasakan sendiri bagaimana bermetamorfosis ke arah yang salah dan masyaAllah sekarang nyeselnya bukan main
Singkat cerita dari saya

Dulu saya dimasukkan ke SD islami oleh orangtua saya. SD di desa yang biaya SPPnya pun terserah mau bayar seikhlasnya saking banyaknya orang di desa saya yang kekurangan dan buat sekolah aja ortu mereka rela kerja keras sampai malam. Sekolah yang mengajarkan saya kesederhanaan, kedisiplinan,ketulusan hati, menghormati dan yang paling penting kejujuran. Dulu di SD tuh ya nggak ada tuh niatan mencontek dan takutt banget pokoknya, bahkan mengerjakan PR di sekolah aja rasanya udah dosa yang paling besar (tapi saya dulu ngerjain di kamar mandi terus pintunya di kunci. tapi ujung-ujungnya saya ngaku juga soalnya takut hehe). Dan saya rasa di SD inilah pondasi yang paling kuat dalam hidup saya
Beralih ke SMP saya memilih masuk ke MTS dan mengenyamm pendidikan di ranah keislaman lagi. Memang benar saya masih merasa menjadi orang baik tapi saya sudah berani mencontek(walaupun jaraaangg sekali), mengerjakan PR di sekolah. Berubah menjadi sedikit nakal
Tibalah saya di masa yang "paling indah" yaitu masa SMA. Saya masuk ke salahsatu sekolah negeri. Di sinilah saya mulai merasakan perbedaan besar dalam diri saya. Saya sudah jarang memegang pondasi kebenaran saya yang sudah susah payah ditanamkan oleh guru saya dahulu. Wah ancur-ancurnya saya ya di SMA ini. Saya nggak tau itu faktor saya-nya yang kurang kuar pondasi atau lingkungannya yang mendorong saya menjadi individu seperti itu
Saat kuliah, saya ditempatkan oleh Allah di tempat yang kembali islami. Jujur sebenarnya bukan tempat ini yang saya inginkan untuk melanjutkan pendidikan saya. Namun sepertinya Allah punya maksud yang berbeda. Setengah tahun sudah saya menjalani kuliah dan saya merasa ada perubahan dalam diri saya secara spiritual maupun tingkah laku ke arah yang lebih positif. Perlahan saya mulai kembali ke pribadi saya yang saya tinggalkan saat SMA. Saya baru menyadari bahwasanya saya lebih berubah ke arah positif setelah reuni bersama teman SMA saya. Wow saya kaget bukan main melihat teman-teman yang sungguh berubah. Lebih sedihnya lagi, mereka bermetamorfosis ke arah yang lebih buruk yang tidak pernah saya pikirkan akan mereka lakukan. Dan akhirnya saya menyadari bahwa Allah masih benar-benar menyayangi saya. Allah memberikan tempat yang saya butuhkan bukan yang saya inginkan. Mungkin Allah rindu saya yang dulu dan Dia menegur saya.

Berangkat dari pengalaman bermetamorfosis saya yang salah saat itu, saya nggak mau mengulang kesalahan yang sama lagi. Saya mulai belajar mengambil hikmah atas semuanya. Saya mulai belajar memperbaiki diri aya. Dalam beribadah, dalam berbusana, dan dalam bertutur kata walaupun belum sempurna tentunya.
Namun saya terkejut oleh respon dari teman-teman saya dulu. Tidak sedikit dari mereka yang justru malah mengatai saya seolah saya bergerak ke arah yang salah. Seolah saya melawan trend saat ini. Memang, saya melawan trend saat ini yang saya pikir bukan merupakan hal yang baik buat saya. Beberapa dari mereka menjauh dari saya dan saya merasakan hal itu.
Mengapa pada zaman ini justru orang yang ingin berubah ke arah yang lebih baik malah justru dibuat 'down' bukannya di dukung ?
Contohnya saja dari cara berbusana. Dalam agama saya diajarkan seharusnya berkerudung memang menutupi dada sehingga kerudungnya terjulur panjang . Sebut saya syar'i lah. Ketika saya mmencoba mulai mengenakannya (karena teman kuliah saya juga banyak yang mengenakannya) lalu saya mencoba 'keluar' dengan tampilan tersebut malah kata-kata yang seolah menjelek-jelekkan seperti
"Kamu nggak cocok pakai seperti itu"
"Hahaha jangan sok alim kamu"
"Jangan jadi teroris ya kamu"
WAH. Respon yang membuat saya kaget. Saya sudah memprediksi sih tapi saya nggak nyangka mereka bisa mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata bukan hanya 'mbatin'
Sebenarnya saya sendiri tidak peduli dengan hal tersebut. Karena yang saya butuhkan bukan pujian kalian. Tapi saya membutuhkan ketenangan hati dan saya berusaha memeprbaiki diri didepan Yang Kuasa.
Namun bagaimana dengan orang lain?
Bagaimana jika ada orang yang mudah memasukkan kata-katamu ke dalam hatinya?
Bagaimana ia bisa bermetamorfosis apabila lingkungan sosialnya selalu menjatuhkan bukannya mendukung?
Maksudku ayolah, jika kamu tidak sependapat atau kamu tidak siap melakukan hal yang sama, JUST SHUT YOUR MOUTH UP!
Biarkan mereka bermetamorfosis, jangan jatuhkan, jangan hina, jangan jelek-jelekkan, bahkan mereka lebih baik daripada kamu yang cuma bisa ngehina and do nothing
Dan buat kalian yang lagi bermetamorfosis dan mengalami hal serupa sama saya. Just slow down and let it go orang-orang macam itu. Tetep terusin. You not come to only come this far. Jangan setengah-setengah dan lanjutin aja karena nggak cuma kalian yang mengalami hal itu.
Jangan takut bermetamorfosis ingat karena pada akhirnya kalian akan berubah jadi kupu-kupu

Sekian kegondokan hari ini dari saya yang baru ingin mencoba bermetamorfosis

You Might Also Like

0 komentar