Baby Mint

    • HOME
    • AUTHOR
    • THINK&TALK
    • DO IT YOURSELF
    • EXPLORE

    Metamorfosis
    Dulu sering banget jadi soal ujian pas jaman masih SD
    Definisi metamorfosis dari guru SD ya perubahan dari ulat (yang notabene nye terkenal jelek,bikin gatel, menjijikkan) lalu jadi kepompong (katanya kayak orang bertapa,diem aja) sampai akhirnya jadi kupu-kupu (udah cantik bisa terbang kemana-mana banayk yang suka sama dia)

    Dalam hidup pun sebagai seorang manusia harusnya kita meniru tuh si proses bermetamorfosisnya ulat. Perlahan berubah menjadi sosok yang lebih baik sehingga banyak disukain sama orang
    Tapi nih tapi semakin ke sini kok kayaknya manusia ini malah cenderung bermetamorfosis ke arah yang salah
    Saya merasakan sendiri bagaimana bermetamorfosis ke arah yang salah dan masyaAllah sekarang nyeselnya bukan main
    Singkat cerita dari saya

    Dulu saya dimasukkan ke SD islami oleh orangtua saya. SD di desa yang biaya SPPnya pun terserah mau bayar seikhlasnya saking banyaknya orang di desa saya yang kekurangan dan buat sekolah aja ortu mereka rela kerja keras sampai malam. Sekolah yang mengajarkan saya kesederhanaan, kedisiplinan,ketulusan hati, menghormati dan yang paling penting kejujuran. Dulu di SD tuh ya nggak ada tuh niatan mencontek dan takutt banget pokoknya, bahkan mengerjakan PR di sekolah aja rasanya udah dosa yang paling besar (tapi saya dulu ngerjain di kamar mandi terus pintunya di kunci. tapi ujung-ujungnya saya ngaku juga soalnya takut hehe). Dan saya rasa di SD inilah pondasi yang paling kuat dalam hidup saya
    Beralih ke SMP saya memilih masuk ke MTS dan mengenyamm pendidikan di ranah keislaman lagi. Memang benar saya masih merasa menjadi orang baik tapi saya sudah berani mencontek(walaupun jaraaangg sekali), mengerjakan PR di sekolah. Berubah menjadi sedikit nakal
    Tibalah saya di masa yang "paling indah" yaitu masa SMA. Saya masuk ke salahsatu sekolah negeri. Di sinilah saya mulai merasakan perbedaan besar dalam diri saya. Saya sudah jarang memegang pondasi kebenaran saya yang sudah susah payah ditanamkan oleh guru saya dahulu. Wah ancur-ancurnya saya ya di SMA ini. Saya nggak tau itu faktor saya-nya yang kurang kuar pondasi atau lingkungannya yang mendorong saya menjadi individu seperti itu
    Saat kuliah, saya ditempatkan oleh Allah di tempat yang kembali islami. Jujur sebenarnya bukan tempat ini yang saya inginkan untuk melanjutkan pendidikan saya. Namun sepertinya Allah punya maksud yang berbeda. Setengah tahun sudah saya menjalani kuliah dan saya merasa ada perubahan dalam diri saya secara spiritual maupun tingkah laku ke arah yang lebih positif. Perlahan saya mulai kembali ke pribadi saya yang saya tinggalkan saat SMA. Saya baru menyadari bahwasanya saya lebih berubah ke arah positif setelah reuni bersama teman SMA saya. Wow saya kaget bukan main melihat teman-teman yang sungguh berubah. Lebih sedihnya lagi, mereka bermetamorfosis ke arah yang lebih buruk yang tidak pernah saya pikirkan akan mereka lakukan. Dan akhirnya saya menyadari bahwa Allah masih benar-benar menyayangi saya. Allah memberikan tempat yang saya butuhkan bukan yang saya inginkan. Mungkin Allah rindu saya yang dulu dan Dia menegur saya.

    Berangkat dari pengalaman bermetamorfosis saya yang salah saat itu, saya nggak mau mengulang kesalahan yang sama lagi. Saya mulai belajar mengambil hikmah atas semuanya. Saya mulai belajar memperbaiki diri aya. Dalam beribadah, dalam berbusana, dan dalam bertutur kata walaupun belum sempurna tentunya.
    Namun saya terkejut oleh respon dari teman-teman saya dulu. Tidak sedikit dari mereka yang justru malah mengatai saya seolah saya bergerak ke arah yang salah. Seolah saya melawan trend saat ini. Memang, saya melawan trend saat ini yang saya pikir bukan merupakan hal yang baik buat saya. Beberapa dari mereka menjauh dari saya dan saya merasakan hal itu.
    Mengapa pada zaman ini justru orang yang ingin berubah ke arah yang lebih baik malah justru dibuat 'down' bukannya di dukung ?
    Contohnya saja dari cara berbusana. Dalam agama saya diajarkan seharusnya berkerudung memang menutupi dada sehingga kerudungnya terjulur panjang . Sebut saya syar'i lah. Ketika saya mmencoba mulai mengenakannya (karena teman kuliah saya juga banyak yang mengenakannya) lalu saya mencoba 'keluar' dengan tampilan tersebut malah kata-kata yang seolah menjelek-jelekkan seperti
    "Kamu nggak cocok pakai seperti itu"
    "Hahaha jangan sok alim kamu"
    "Jangan jadi teroris ya kamu"
    WAH. Respon yang membuat saya kaget. Saya sudah memprediksi sih tapi saya nggak nyangka mereka bisa mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata bukan hanya 'mbatin'
    Sebenarnya saya sendiri tidak peduli dengan hal tersebut. Karena yang saya butuhkan bukan pujian kalian. Tapi saya membutuhkan ketenangan hati dan saya berusaha memeprbaiki diri didepan Yang Kuasa.
    Namun bagaimana dengan orang lain?
    Bagaimana jika ada orang yang mudah memasukkan kata-katamu ke dalam hatinya?
    Bagaimana ia bisa bermetamorfosis apabila lingkungan sosialnya selalu menjatuhkan bukannya mendukung?
    Maksudku ayolah, jika kamu tidak sependapat atau kamu tidak siap melakukan hal yang sama, JUST SHUT YOUR MOUTH UP!
    Biarkan mereka bermetamorfosis, jangan jatuhkan, jangan hina, jangan jelek-jelekkan, bahkan mereka lebih baik daripada kamu yang cuma bisa ngehina and do nothing
    Dan buat kalian yang lagi bermetamorfosis dan mengalami hal serupa sama saya. Just slow down and let it go orang-orang macam itu. Tetep terusin. You not come to only come this far. Jangan setengah-setengah dan lanjutin aja karena nggak cuma kalian yang mengalami hal itu.
    Jangan takut bermetamorfosis ingat karena pada akhirnya kalian akan berubah jadi kupu-kupu

    Sekian kegondokan hari ini dari saya yang baru ingin mencoba bermetamorfosis

    Continue Reading




    Sebagai seorang anak ABG yang baru mencicipi bangku perkuliahan banyak kata “homesick” yang dilontarkan teman –teman kita. Terutama teman dengan rumah yang terbilang sangat jauh dari tempatnya berada sekarang. Lalu apa itu homesick?

    Menurutku, definisi Homesick adalah keadaan dimana kita merasa sangat rindu dengan rumah. Rindu dengan kamar kita, rindu dengan rutinitas kita di kampung halaman, rindu dengan keluarga, bahkan mungkin merindukan hal yang biasanya sangat kita benci, rindu diomelin ibu?
    Berapa lama perasaan itu akan menetap ?
    Perihal berapa lama perasaan itu menetap tergantung kepada cara kita mengatasinya. Kembali kepada judul postingan kali ini

    Apa sih yang kamu sebut sebagai rumah ?
    Tumpukan batu bata dan semen yang kamu tinggali sejak kecil? Ataukah tempat kamu menghabiskan waktu sehari-hari ? ataukah keluarga ?
    Buatku rumah adalah dimanapun. Dimanapun tempat kamu merasa nyaman dan dimanapun kamu bisa beradaptasi. Well, biasanya orang yang sering homesick adalah orang yang terjebak pada zona nyaman terlalu lama dan dia nggak tau cara buat keluar. Dia merasa rutinitas ataupun temannya tidak seperti yang diharapkannya dan dia nggak mau susah-susah beradaptasi sama semua hal itu. Wajar memang jika homesick muncul di saat – saat pertama merasakan perkuliahan. Melihat jadwal yang begitu padat, teman yang nggak se solid waktu SMA dan kamu harus menjalankan pekerjaan yang biasanya dilakukan orangtuamu seorang diri misal mencuci,memasak, dan pekerjaan rumahtangga lain. Pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal yang baru itu. Tapi kalo homesick terlalu lama berarti salahnya berada pada subjek yang menjalaninya.

    Gimana cara ngatasi semua hal itu ?
    Aku sendiri bukan expert dalam mengatasi homesick padahal jarak rumahku tergolong deket dari kampus (hehe). Buatku pribadi cara mengatasinya adalah keep in touch sama orang-orang terdekat kita. sekarang kan teknologi udah maju tuh ada namanya video call bisa banget sih itu digunain. Selain itu bisa juga dengan cara ngejalanin hobi mu atau apapun lah yang membuat kamu jadi enjoy sama keadaanmu sekarang. Cari teman sebanyak banyaknya dan coba sampingin ego dan membaur sama mereka. Jangan ambil pusing semua hal. Ya jalanin aja. Just do it .

    Keluarlah dari comfort zone karena kesuksesan itu ada di luar comfort zone (kalo kata quotes-quotes sih) and if everything getting harder don’t forget you always have God. Cheer up! You can do it. I mean , we can do it !
    Continue Reading


    (Jadi ini sedikit bercerita tentang pengalaman baru-baru ini)

    Bagaimana kamu mendeskripsikan kesuksesan ?
    Saat kamu berhasil memiliki rumah yang besar ? Uang berlimpah ? Pacar yang keren ?
    Kesuksesan menurutku adalah dimana kita merasa apa yang kita miliki sangat istimewa dan tidak didapat orang lain. Saat kita berhasil meraih apa yang kita idam-idamkan sejak lama dan hal tersebut menimbulkan kebangaan kepada diri kita sendiri

    Sebagai contohnya, yang baru-baru ini terjadi pada orang seumuranku. Remaja 18 tahun
    Setelah kurang lebih 3 tahun menempuh pendidikan di SMA , yang dianggap kesuksesan adalah saat berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan
    Tak berhenti sampai di situ
    Kesuksesan adalah ketika berhasil mendapatkan PERGURUAN TINGGI FAVORIT 
    Hm bukan hanya perguruan tingginya saja namun mendapat JURUSAN/ PRODI YANG BERGENGSI
    Jadi perguruan tinggi seperti apakah yang disebut favorit dan jurusan apa yang disebut bergengsi ?
    yaitu perguruan tinggi dan prodi yang di "wah" kan saat kita berhasil menembusnya
    di "wah" kan oleh teman-teman kita dan orang yang mengenal kita
    Perguruan tinggi yang semua orang mengetahuinya dan terkenal susah untuk ditembus
    Perguruan tinggi dengan track record terbaik di Indonesia maupun negara lain
    Tentu aku tidak perlu menyebutkan nama perguruan tingginya kan?  karena aku yakin semua orang mengetahuinya.
    Jurusan yang sudah menjadi favorit hampir sebagian besar pelajar  (sepertinya)
    Kedokteran ? Harga mati katanya
    Jurusan yang terkenal dengan "masuknya susah, keluarnya lebih susah" "UKT mahal" dan lain-lain
    Walau berusaha mengelaknya tapi statement tersebut masih didewakan sampai sekarang

    Kerika tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi favorit ataupun jurusan bergengsi sering terjadi yang namanya MALU
    Kenapa merasa malu ?
    Masih banyak orang diluaran sana yang berpikiran sempit
    Tidak berhasil memasuki jurusan/PTN favorit maka anak tersebut dianggap mengalami kegagalan menurut parameter mereka. Dan berhasil adalah ketika bisa meraih jurusan/PTN/s favorit
    Parameter kesuksesan orang-orang berpikiran sempit tersebut sedikit banyak mempengaruhi pikiran remaja yang hendak melanjutkan kuliah
    "Aku malu jika tidak berhasil masuk jurusan itu"
    "Pokoknya kalau tidak berhasil masuk ke sana aku nggak mau kuliah. Gengsi bukan PTN/S ternama"
    "Apa kata teman-temanku nanti jika aku masuk jurusan nggak terkenal itu. Malu ah"
    Terjadilah lagi yang namanya BERPURA-PURA
    Demi membuat orang -orang di lingkungan merasa impressed terhadapnya
    Padahal dia sendiri tidak merasa nyaman
    Padahal dia sendiri tidak menguasai pelajaran yang menjadi dasar kuliah pada jurusan tersebut
    Padahal ia sangat membenci fisika tapi ingin masuk jurusan teknik sipil, membenci matematika padahal ingin masuk STAN, membenci biologi padahal ingin masuk kedokteran
    (ingin yang dimaksud disini adalah ingin demi membuat orang lain merasa kagum)
    Yah, salah satu diatas pernah aku impikan demi membuat orang lain merasa kagum
    Munafik rasanya jika tidak mengakuinya

    Mengesampingkan bakat dan minat sering dilakukan hanya karena kata-kata
    "Apa prospek kerjanya?Nggak ada yang bagus. Nggak terjamin"
    Prospek prospek dan prospek
    Memang benar gaji yang banyak , kehidupan yang nyaman dan terjamin tentunya adalah impian semua orang
    Tapi untuk apa jika kamu tidak mendapatkan kebahagiaan saat mengerjakannya?
    Kehidupanmu akan dipenuhi stress
    Stress tentu akan membuatmu tidak bisa enjoy
    Saat tidak enjoy, tentu kamu tidak akan bisa mensyukuri dan menikmati hasil dari kerja kerasmu

    Negara ini tidak hanya membutukan insinyur yang hebat, dokter yang ahli, arsitek yang berbakat, maupun akuntan yang jeli (1)
    Negara ini juga membutuhkan petani yang pintar, nelayan yang cerdas juga guru yang berdedikasi
    Tanpa mereka, negara akan sama hancurnya dengan tidak memiliki warga seperti profesi di statement (1)
    Negara ini membutuhkan bukan tentang siapa yang menghasilkan pendapatan paling banyak tapi tentang siapa yang mau bekerja sama bersinergi dan bersedia membangun negeri ini
    ( jangan pernah menganggap suatu profesi tidak penting )

    Tuhan selalu memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan
    Jangan selalu berorientasi kepada uang dan harta
    Parameter kesuksesan bukan hanya dari uang dan harta
    Bukan hanya dari yang kasat mata '
    Bukan hanya yang bisa dilihat orang banyak
    Parameter kesuksesan bagiku adalah saat kamu merasa bahagia dalam menjalankannya dan bermanfaat bagi dirimu, orang lain, negara, maupun agamamu
    Jadi, Ikhlaslah
    Jangan pernah malu dan rendah diri
    Jalani semua dengan ikhlas karena dengan ikhlas maka kita akan bisa memandang dunia dengan lebih indah

    teruntuk : teman temanku yang masih belum merasa puas, dan juga kepada diriku supaya lebih banyak bersyukur hehe





    Continue Reading
    Older
    Stories

    FIND ME

    • twitter
    • pinterest
    • instagram

    INSTAGRAM

    @nrtrida

    LABELS

    • Design
    • Diary
    • Do It Yourself
    • Motivation
    • Opinion
    • Think&Talk

    POSTS

    • ▼  2021 (4)
      • ▼  March 2021 (4)
        • Pandemi ? Peluang Mulai Bisnis Onlinemu
        • Jangan Buang SAMPAH ke TEMPAT SAMPAH (Begitu Saja)
        • Millenial Juga Dukung "Green Habit" !
        • Solusi Menjadikan Aset "Nganggur" Jadi Cuan Melalu...
    • ►  2018 (7)
      • ►  August 2018 (3)
      • ►  February 2018 (1)
      • ►  January 2018 (3)
    • ►  2017 (6)
      • ►  December 2017 (2)
      • ►  July 2017 (4)

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top